Dulu aku pernah membahas perihal cita-cita. Ya, cita-cita. Sesuatu dimana jika dewasa nanti profesi apa yang akan kau pilih untuk menjalani kehidupan. Layaknya seperti anak-anak di usia itu, Aku sangat bersemangat mendengar hal-hal yang terkesan baru, begitupun ketika Aku mengetahui kata "cita-cita", Uuuh, otak kecilku melompat-lompat membayangkannya. Sebuah kata yang menarik, pekikku dalam hati.
Kala itu aku sedang berkumpul dengan lima kawanku. Tak kalah heboh denganku, kawan-kawanku pun turut bersemangat jingkrak-jingkruk perihal membahas cita-cita. Ada yang berkata "aku ingin menjadi arsitek", di sisi lain kawanku yang satu lagi berteriak "aku ingin menjadi tentara", tapi setelah itu kami semua tertawa terbahak. Bagaimana tidak, yang berteriak ingin menjadi tentara itu namanya Endi, anak yang tubuhnya paling kecil diantara kami semua. Tentu terlihat sangan lucu si Endi dengan suara cemprengnya mengatakan hal itu. Yang ditertawakan terdiam, memasang wajah masam.
"oy, endi, kenapa kamu ingin menjadi tentara? kan tubuhmu kecil. Tentara itu tubuhnya mesti kekar" ucap Nusi sambil menggerakan tangannya, memperagakan gerakan macho. Si Nusi ini satu temanku yang ukuran tubuhnya beda dari rata-rata. Besar.
"nanti juga aku berolahraga, dong. Supaya jadi kekar sepertimu. Nah, lalu kenapa pula kamu enggak pingin jadi tentara Nusi? Kan badanmu besar" timpa Endi, mempertanyakan kepada si teman besar Nusi.
Semua tatapan tertuju pada Nusi. Benar juga kata Endi, kenapa Nusi tidak bercita-cita jadi tentara? Padahal kan badannya sangat mendukung.
"aku enggak mau aja" balas Nusi singkat. Wajahnya kikuk, dan setelahnya ada sedikit kesedihan menguar di sana.
Endi memasang raut kecewa mendengar jawaban Nusi yang terkesan biasa saja. Tiga kawanku yang lain hanya terdiam, tidak terlalu memperdulikan. Mendadak semuanya hening. Aku berniat mengalihkan pembicaraan, tapi tiba-tiba Nusi angkat bicara.
"aku benci tentara. Mungkin aku juga benci cita-cita." ucap Nusi, menatap tajam Endi.
Tiga kawanku, Safar, Ridi, dan Uka, mereka bertiga langsung kaget. Begitu juga denganku.
"berhentilah berfikir seolah kau akan menggapai cita-cita. Jadi tentara itu tidak mudah, kau harus sekolah militer ke kota. Lagi pula, bagaimana tubuhmu akan besar kalau sekarang saja makananmu ikan asin." kata-kata itu menusuk sekali. Keluar dari mulut kawan lamaku. Siapakah itu? Aku mengenal suaranya, tapi Aku sama sekali tak kenal siapa itu. Dia bukan Nusi yang ku kenal.
"kenapa kau mendadak aneh begitu, Nusi?" tukas Safar menanggapi, "biarlah Endi jadi apapun yang dia mau. Siapa tau bisa terwujud. Nah kau ini kenapa malah merendahkan tak jelas?"
Waduh, aku paling tak suka hal seperti ini. Hei Nusi!, benar kata Safar, kenapa kau malah mendadak emosi begitu? Bukannya Nusi yang ku kenal adalah Nusi yang selalu mendukung kawannya? Siapa yang bersamaku ini?
Kami semua masih hening. Nusi tidak menjawab pertanyaan Safar. Sementara Endi wajahnya pucat gemetaran, dia pasti sakit hati oleh perkataan Nusi.
"kalian semua tak akan mengerti." Nusi menundukkan pandangannya.
"apa maksudmu, Nusi?" sekarang giliran Aku yang bertanya. Kawan-kawanku juga sepakat mengangguk mempertanyakan.
"aku tak pernah menceritakannya kepada siapapun. Bahkan sebernarnya aku ingin melupakan hal ini." Nusi berkata lirih.
Ketegangan di antara kami memudar perlahan, berganti menjadi tanda tanya yang menguar.
"kalian semua tahu, kan, kalau ayahku sudah tiada. Dan sebenarnya aku adalah anak kedua, aku punya kakak yang belum pernah diceritakan kepada siapapun. Karena kakakku sudah tiada juga."
Kami semua kaget. Apakah itu benar Nusi? Aku, Endi, Safar, Ridi, dan Uka sama sekali tidak mengetahui hal itu. Nusi memang anak pidahan, kurang lebih dua tahunan yang lalu dia pindah ke desa kami, kami semua bertemu, berkenalan dan kemudian akrab sampai sekarang, kami semua tak pernah tahu latar belakang Nusi.
"Sebelumnya kupikir semua sudah berakhir di ayahku. Tapi akhirnya kakakku juga meninggal karena mimpinya sendiri, karena cita-cita tidak berguna itu," jelas Nusi,
"Sebelumnya kupikir semua sudah berakhir di ayahku. Tapi akhirnya kakakku juga meninggal karena mimpinya sendiri, karena cita-cita tidak berguna itu," jelas Nusi,
"aku kehilangan dua pilarku sekaligus. Aku teramat sedih, juga ibuku." dada Nusi naik-turun saat bercerita.
"Ibu dan Aku memutuskan untuk pidah ke desa, melupakan semua kenangan pahit itu. Dan akhirnya aku di sini, bertemu dengan kalian semua, duduk di sini membahas soal cita-cita."
Perlahan Aku mulai mengerti situasinya. kasihan sekali Nusi ini, dia adalah orang yang kecewa, dia adalah orang yang dikecewakan cita-cita bahkan sebelum dia sendiri merasakannya.
Kami semua sekarang tahu alasan dibalik Nusi yang sensitif tadi.
"Nusi, Aku turut berduka atas ceritamu, maafkan aku yang sama sekali tidak tahu tentang keluargamu, dan juga masa lalumu yang tidak mengenakan," tiba-tiba Endi berbicara diantara kami semua yang sedang membisu. Aku refleks mengiyakan perkataan Endi yang memang betul adanya, yang diikuti oleh ketiga temanku.
Nusi mengangguk, "maafkan Aku juga yang tadi terlalu egois, kawan-kawan. Cita-cita itu hak semua orang, kan. Aku tidak berhak memasukan alasanku ke dalam cita-cita seseorang."
Sejenak hening.
"itu hak mu juga, Nus, untuk tidak menginginkan cita-cita," ucapku,
"toh, apalah arti cita-cita bila itu hanya menyusahkan penggapainya."
Komentar
Posting Komentar